Saat mengajukan pinjaman, keputusan pemberi pinjaman tidak hanya bergantung pada jumlah penghasilan. Riwayat pembayaran, jumlah kewajiban yang dimiliki, kondisi pekerjaan, dan berbagai informasi lain bisa ikut dianalisis untuk melihat risiko kredit.
Proses penilaian tersebut dikenal sebagai credit scoring.
Secara sederhana, credit scoring adalah metode penilaian risiko kredit untuk membantu pemberi pinjaman menilai kelayakan calon debitur. Hasilnya bisa digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah pengajuan kredit diterima, termasuk jumlah pinjaman, bunga, atau tenor yang ditawarkan.
Lalu, bagaimana cara kerja credit scoring dan apa yang bisa dilakukan kalau profil kredit Anda kurang baik? Yuk, simak selengkapnya di bawah.
💡 Highlights
- Credit scoring adalah metode penilaian risiko kredit yang membantu pemberi pinjaman menilai kelayakan calon debitur. Hasilnya bisa jadi salah satu pertimbangan untuk menentukan persetujuan, plafon, bunga, dan tenor, tapi bukan penentu tunggal karena tiap lembaga punya kebijakan sendiri.
- Cara kerjanya melewati beberapa tahap: data dikumpulkan, diverifikasi, dianalisis, dihitung risikonya, lalu digunakan dalam keputusan kredit. Data bisa berasal dari calon debitur, data internal lembaga, riwayat kredit, hingga sumber lain yang sah. Karena modelnya berbeda-beda, skor seseorang bisa tidak sama di tiap lembaga.
- Beberapa faktor yang bisa memengaruhi skor: riwayat pembayaran (paling penting), jumlah dan jenis utang yang dimiliki, rasio penggunaan kredit, lama riwayat kredit, serta seberapa sering mengajukan kredit baru dalam waktu berdekatan.
- Credit scoring, SLIK OJK, dan LPIP itu berbeda. SLIK OJK adalah sistem informasi debitur yang dikelola OJK (bersifat netral, bukan blacklist), credit scoring adalah metode penilaian risikonya, dan LPIP (credit bureau) adalah lembaga yang mengolah data menjadi credit profile dan scoring. SLIK bisa jadi salah satu sumber data, bukan skornya sendiri.
- Tidak ada satu rentang skor yang berlaku universal di Indonesia, dan credit score berbeda dengan kolektibilitas (KOL 1 sampai 5). KOL adalah kualitas kredit yang tercatat di SLIK (Lancar sampai Macet), sementara “skor kredit 1-5” hanya istilah populer untuk menyebut KOL, padahal keduanya tidak sepenuhnya sama.
Fungsi Credit Scoring
Credit scoring membantu pemberi pinjaman melakukan penilaian risiko dengan lebih terstruktur.
Membantu Penilaian Risiko oleh Pemberi Pinjaman
Pemberi pinjaman perlu mengetahui seberapa besar risiko ketika menyalurkan kredit kepada seseorang.
Credit scoring membantu mengolah berbagai informasi mengenai calon debitur menjadi penilaian risiko. Dengan model statistik dan data historis, proses analisis bisa dilakukan secara lebih cepat dan konsisten.
Salah satu informasi penting yang bisa dianalisis adalah riwayat pembayaran. Kalau seseorang punya catatan pembayaran yang baik, informasi tersebut bisa menjadi bagian dari profil risikonya. Sebaliknya, tunggakan atau riwayat pembayaran yang bermasalah bisa menjadi pertimbangan dalam penilaian.
Menentukan Persetujuan, Plafon, dan Bunga Pinjaman
Hasil credit scoring bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan keputusan kredit.
Dalam model tertentu, hasil penilaian risiko bisa berkaitan dengan:
- apakah pengajuan kredit disetujui atau tidak;
- jumlah atau plafon kredit yang diberikan;
- tingkat bunga;
- tenor atau jangka waktu kredit.
- Namun, hasil scoring tidak otomatis menentukan keputusan akhir. Masing-masing lembaga punya kebijakan, model risiko, dan proses analisis sendiri.
Bagaimana Cara Kerja Credit Scoring?
Secara umum, cara kerja credit scoring bisa digambarkan melalui beberapa tahap:
Data dikumpulkan → data diverifikasi → data dianalisis → risiko kredit dihitung → hasil digunakan dalam keputusan kredit.
Data yang digunakan bisa berasal dari informasi yang diberikan calon debitur, data internal lembaga keuangan, riwayat kredit, maupun sumber lain yang bisa digunakan secara sah untuk analisis.
Di Indonesia, salah satu sumber informasi penting adalah SLIK OJK. SLIK menyediakan Informasi Debitur yang berasal dari laporan lembaga jasa keuangan. Informasi tersebut bisa digunakan sebagai salah satu sumber dalam analisis kelayakan calon debitur, tetapi bukan satu-satunya dasar keputusan.
Selain SLIK, lembaga keuangan juga bisa menggunakan informasi dari lembaga pengelola informasi perkreditan atau credit bureau dan sumber data lain sesuai kebutuhan serta ketentuan yang berlaku.
Setelah data terkumpul, lembaga atau penyedia scoring menggunakan model tertentu untuk menghasilkan penilaian risiko. Model tersebut bisa menggunakan metode statistik maupun teknologi seperti machine learning.
Karena modelnya bisa berbeda, credit score seseorang tidak selalu mempunyai angka yang sama ketika dinilai oleh lembaga yang berbeda.
Faktor yang Memengaruhi Credit Score
Tidak semua lembaga menggunakan faktor dengan bobot yang sama. Namun, beberapa informasi berikut bisa menjadi bagian dari penilaian risiko kredit.
Riwayat Pembayaran
Riwayat pembayaran merupakan salah satu informasi penting dalam credit scoring.
Pemberi pinjaman bisa melihat apakah kewajiban sebelumnya dibayar tepat waktu atau terdapat tunggakan. Semakin baik riwayat pembayaran, semakin baik pula informasi tersebut bagi profil risiko kredit.
Untuk itu, membayar cicilan sesuai jadwal merupakan salah satu kebiasaan paling penting dalam menjaga profil kredit.
Jumlah dan Jenis Utang yang Dimiliki
Pemberi pinjaman juga bisa melihat kewajiban kredit yang sedang dimiliki.
Punya beberapa fasilitas kredit sekaligus tidak otomatis berarti pengajuan akan ditolak. Namun, jumlah kewajiban yang terlalu besar dibandingkan kemampuan membayar bisa meningkatkan risiko kredit dan menjadi pertimbangan dalam proses analisis.
Rasio Penggunaan Kredit
Pada model credit scoring tertentu, tingkat penggunaan fasilitas kredit bisa menjadi salah satu indikator risiko.
Contohnya, penggunaan limit kartu kredit yang terus tinggi bisa memberikan informasi berbeda dibandingkan fasilitas yang digunakan secara lebih terkendali.
Namun, tidak ada satu angka rasio penggunaan kredit yang bisa disebut sebagai standar universal untuk seluruh lembaga di Indonesia. Model, bobot, dan batas penilaian bisa berbeda.
Lama Riwayat Kredit
Riwayat kredit yang tersedia memberikan lebih banyak informasi mengenai pola pembayaran seseorang.
Namun, lama riwayat kredit bukan berarti seseorang harus sengaja mempertahankan utang agar mendapatkan credit score yang lebih baik. Yang lebih penting adalah punya riwayat pembayaran yang sehat dan kewajiban yang masih sesuai dengan kemampuan finansial.
Pengajuan Kredit Baru yang Terlalu Sering
Pengajuan kredit dalam jumlah banyak dalam waktu berdekatan bisa menjadi salah satu informasi yang diperhatikan dalam model penilaian tertentu.
Kalau Anda sedang punya banyak kewajiban, terus mengajukan pinjaman baru bisa membuat profil utang terlihat semakin kompleks.
Maka dari itu, sebelum mengajukan fasilitas baru, pastikan Anda memang membutuhkannya dan punya kemampuan untuk membayar kewajiban tersebut.
Credit Scoring di Indonesia: SLIK OJK dan Lembaga Pemeringkat Kredit
Credit scoring dan SLIK OJK sering dianggap sebagai hal yang sama. Padahal, keduanya berbeda.
SLIK OJK adalah sistem informasi yang dikelola OJK untuk menyediakan Informasi Debitur, termasuk informasi fasilitas kredit atau pembiayaan yang dilaporkan oleh lembaga jasa keuangan.
Informasi tersebut bisa digunakan sebagai salah satu sumber dalam analisis kelayakan kredit. OJK juga menegaskan bahwa Informasi Debitur SLIK bersifat netral dan bukan blacklist.
Sementara itu, credit scoring merupakan proses atau model penilaian risiko yang bisa digunakan oleh pemberi pinjaman untuk mengevaluasi kelayakan calon debitur.
Di sisi lain, Indonesia juga punya Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP). Lembaga ini menghimpun dan mengolah data kredit serta data lain untuk menghasilkan informasi perkreditan. Produk informasi tersebut bisa mencakup credit profile dan credit scoring.
Artinya, SLIK bisa menjadi salah satu sumber data dalam proses analisis, sedangkan credit scoring merupakan salah satu metode untuk menilai risiko kredit.
Kategori atau Rentang Skor Kredit
Tidak ada satu rentang credit score yang berlaku untuk seluruh lembaga di Indonesia.
Masing-masing credit bureau atau lembaga keuangan bisa punya model, variabel, dan rentang penilaian sendiri. Untuk itu, angka pada satu layanan scoring tidak sebaiknya disamakan begitu saja dengan angka pada layanan lain.
Yang juga perlu dibedakan adalah credit score dengan kolektibilitas kredit (KOL).
Dalam Informasi Debitur SLIK, kualitas kredit dikenal dengan kolektibilitas. Secara umum, kategorinya adalah:
| Kode | Kolektibilitas | Gambaran |
|---|---|---|
| KOL 1 | Lancar | Kewajiban dibayar sesuai ketentuan |
| KOL 2 | Dalam Perhatian Khusus | Terdapat keterlambatan yang masih dalam kategori DPK |
| KOL 3 | Kurang/Tidak Lancar | Kualitas kredit sudah bermasalah |
| KOL 4 | Diragukan | Kredit berada dalam kualitas diragukan |
| KOL 5 | Macet | Kredit berada dalam kualitas macet |
Jadi, KOL 1–5 bukan berarti credit score universal dari OJK. KOL merupakan informasi mengenai kualitas atau kolektibilitas kredit yang tercatat dalam sistem informasi debitur.
Hal ini penting karena istilah “skor kredit 1–5″ sering digunakan secara populer untuk menjelaskan KOL, padahal keduanya tidak sepenuhnya sama.
Skor Kredit Buruk karena Utang Menumpuk? Ini Solusinya
Credit scoring yang kurang baik sering kali berkaitan dengan masalah yang lebih besar, yakni kewajiban sudah terlalu banyak, cicilan menumpuk, atau ada pembayaran yang mulai tertunda.
Dalam kondisi seperti ini, sekadar mengajukan pinjaman baru untuk menutup pinjaman lama belum tentu menyelesaikan masalah. Yang perlu dilihat adalah keseluruhan kewajiban dan kemampuan pembayaran Anda.
Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah konsolidasi utang, yaitu menata beberapa kewajiban agar pembayaran lebih terstruktur.
Melalui Program Dana Talangan FLIN, Anda bisa berkonsultasi mengenai opsi penyelesaian dan konsolidasi utang sesuai kondisi finansial serta ketentuan program.
Tujuannya bukan menghapus riwayat kredit atau menjamin credit score langsung meningkat, tetapi membantu Anda menata kewajiban yang sedang berjalan agar lebih terkelola.
Setiap pengajuan tetap melalui proses analisis dan mengikuti persyaratan yang berlaku. Tidak ada jaminan bahwa setiap pengajuan akan disetujui.
Kalau utang sudah mulai mengganggu cash flow, lebih baik memahami posisi kewajiban Anda terlebih dahulu sebelum menambah pinjaman baru.
Yuk, segera konsultasi masalah keuangan Anda dan temukan solusinya bersama FLIN.
Dengan demikian, credit scoring adalah metode penilaian risiko kredit yang membantu pemberi pinjaman menilai kelayakan calon debitur. Penilaiannya bisa menggunakan berbagai informasi, mulai dari riwayat pembayaran, kondisi keuangan, jumlah kewajiban, hingga data lain yang relevan.
Di Indonesia, SLIK OJK menjadi salah satu sumber informasi penting dalam analisis kredit, tetapi SLIK bukan credit score dan bukan blacklist. Sementara itu, credit bureau atau lembaga keuangan bisa menggunakan model scoring masing-masing.
Karena tidak ada satu formula credit scoring yang berlaku untuk semua lembaga, cara paling aman untuk menjaga profil kredit adalah membangun kebiasaan finansial yang sehat, mulai dari bayar kewajiban tepat waktu, kendalikan jumlah utang, hindari pengajuan kredit yang tidak perlu, dan pantau informasi kredit secara berkala.
Kalau masalahnya sudah berupa utang yang menumpuk, fokus pertama bukan mengejar skor, melainkan menata kembali kewajiban agar pembayaran bisa berjalan sesuai kemampuan.
Baca lebih lanjut tentang bagaimana menjaga skor kredit agar tetap baik dan hal lainnya di bawah ini: