Kalau Anda meminjamkan atau meminjam uang dalam jumlah tertentu, jangan cuma mengandalkan kesepakatan lisan. Surat perjanjian hutang piutang berguna untuk memperjelas siapa yang meminjam, berapa jumlahnya, kapan harus dibayar, dan apa yang terjadi kalau kewajiban tidak dipenuhi.
Lalu, bagaimana cara membuat surat perjanjian hutang piutang yang jelas dan tidak bikin masalah di kemudian hari? Yuk, simak langkah-langkahnya di sini.
Bagaimana Cara Membuat Surat Perjanjian Hutang Piutang?
Cara membuat surat perjanjian hutang piutang sebenarnya cukup sederhana. Anda tinggal memastikan identitas kedua pihak, jumlah utang, jangka waktu, cara pembayaran, plus ketentuan kalau terjadi keterlambatan ditulis dengan jelas.
Berikut langkah yang bisa Anda ikuti.
Langkah 1 – Cantumkan Identitas Kedua Pihak
Awali surat dengan identitas lengkap pihak yang memberikan dan menerima pinjaman.
Setidaknya, cantumkan:
- Nama lengkap
- Nomor identitas
- Alamat
- Pekerjaan
- Nomor kontak kalau diperlukan
Jelaskan juga posisi masing-masing pihak dalam perjanjian, misalnya PIHAK PERTAMA sebagai pemberi pinjaman dan PIHAK KEDUA sebagai penerima pinjaman.
Langkah 2 – Tulis Nominal Utang, Tujuan, dan Jangka Waktu
Setelah identitas, tuliskan jumlah uang yang dipinjam secara jelas.
Nominal sebaiknya ditulis menggunakan angka dan huruf, misalnya:
Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah).
Kalau pinjaman punya tujuan tertentu, Anda juga bisa mencantumkannya dalam surat.
Selanjutnya, tentukan jangka waktu pembayaran. Jangan cuma menulis “akan dibayar setelah beberapa bulan”, tapi tetapkan tanggal atau periode pembayaran yang spesifik.
Contohnya:
PIHAK KEDUA wajib melunasi pinjaman paling lambat tanggal 30 September 2026.
Kalau pembayaran dilakukan secara cicilan, tuliskan jumlah cicilan dan tanggal pembayarannya.
Langkah 3 – Tentukan Cara Pembayaran, Bunga, dan Jaminan
Bagian berikutnya menjelaskan bagaimana utang tersebut akan dibayar.
Tuliskan apakah pembayaran dilakukan secara:
Sekaligus saat jatuh tempo;
Dicicil setiap bulan; atau
Memakai skema pembayaran lain yang disepakati.
Kalau pinjaman dikenakan bunga, tuliskan besaran dan cara perhitungannya dengan jelas.
Begitu juga kalau ada jaminan. Jelaskan jenis aset yang dijadikan jaminan beserta identitasnya supaya tidak menimbulkan beda penafsiran.
Langkah 4 – Tambahkan Klausul Wanprestasi
Jangan cuma mengatur kondisi ketika pembayaran lancar. Surat juga sebaiknya menjelaskan apa yang terjadi kalau salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya.
Misalnya, debitur terlambat membayar cicilan atau tidak melunasi utang sampai tanggal yang disepakati.
Klausul tersebut bisa mengatur langkah yang akan dilakukan para pihak, seperti pemberian teguran, negosiasi penyelesaian, atau tindakan lain sesuai isi perjanjian dan ketentuan hukum yang berlaku.
Dengan begitu, kedua pihak sudah tahu konsekuensinya sejak awal.
Langkah 5 – Bubuhkan Saksi, Tanda Tangan, dan Materai
Setelah semua ketentuan selesai, cantumkan tempat dan tanggal pembuatan surat.
Kemudian, kedua pihak menandatangani dokumen tersebut. Saksi juga bisa dicantumkan kalau diperlukan.
Materai bisa digunakan sesuai ketentuan bea meterai yang berlaku, tapi materai bukan satu-satunya penentu sah atau tidaknya suatu perjanjian.
Yang tidak kalah penting, pastikan perjanjian dibuat berdasarkan kesepakatan para pihak dan memenuhi ketentuan hukum soal sahnya perjanjian.
Sebelum menandatangani, baca kembali seluruh isi surat. Pastikan nominal, tanggal jatuh tempo, cicilan, bunga, jaminan, dan konsekuensi keterlambatan sudah sesuai kesepakatan.
Butuh Bantuan kalau Utang Sudah Menumpuk?
Surat perjanjian hutang piutang cocok untuk mendokumentasikan kesepakatan antara pihak yang memberikan dan menerima pinjaman.
Tapi situasinya beda kalau Anda sendiri sudah punya utang di banyak tempat, seperti kartu kredit, KTA, atau pinjaman lainnya. Dalam kondisi seperti itu, membuat surat perjanjian baru bukan solusi untuk menyelesaikan seluruh kewajiban.
Anda perlu melihat total utang, kemampuan membayar, bunga, serta jadwal jatuh tempo secara keseluruhan.
Kalau kewajiban sudah terlalu banyak, opsi seperti negosiasi, restrukturisasi, atau konsolidasi bisa dipertimbangkan sesuai kondisi Anda.
Untungnya, FLIN bisa membantu Anda memetakan kondisi utang dan mencari solusi penyelesaian yang lebih terstruktur lewat program Dana Talangan FLIN.
Yuk, konsultasikan kondisi utang Anda dengan FLIN untuk mengetahui opsi yang sesuai atau dengan cara klik tombol di bawah ini. GRATIS!
Dengan demikian, itulah cara membuat surat perjanjian hutang piutang yang tidak harus rumit. Terpenting, surat tersebut menjelaskan identitas para pihak, nominal utang, tujuan dan jangka waktu pinjaman, cara pembayaran, bunga atau jaminan jika ada, serta konsekuensi apabila terjadi wanprestasi.
Sebelum ditandatangani, pastikan seluruh isi sudah dipahami dan disepakati kedua pihak. Untuk transaksi dengan nilai besar atau ketentuan yang kompleks, pertimbangkan memakai bantuan notaris atau profesional hukum.
Sementara itu, jika masalahnya bukan lagi membuat perjanjian tetapi utang sudah menumpuk di banyak tempat, fokus utamanya adalah menyusun strategi penyelesaian yang realistis, bukan menambah kewajiban baru.
Baca lebih lanjut soal utang dan piutang di bawah ini: