Meminjamkan atau meminjam uang tanpa bukti tertulis bisa menjadi masalah ketika salah satu pihak lupa, menyangkal, atau tidak memenuhi kesepakatan pembayaran. Maka dari itu, surat perjanjian hutang piutang penting untuk mencatat siapa yang berutang, berapa jumlahnya, kapan harus dibayar, dan apa yang terjadi kalau kewajiban tersebut tidak dipenuhi.
Surat ini tidak harus dibuat dengan bahasa hukum yang rumit. Yang terpenting, isinya jelas dan memenuhi unsur perjanjian yang sah. Berikut pembahasan selengkapnya.
Apa Itu Surat Perjanjian Hutang Piutang dan Kenapa Penting?
Surat perjanjian hutang piutang adalah dokumen tertulis yang memuat kesepakatan antara pemberi pinjaman (kreditur) dan penerima pinjaman (debitur) mengenai sejumlah uang yang harus dikembalikan.
Biasanya, surat ini mencantumkan:
- Identitas kreditur dan debitur.
- Jumlah uang yang dipinjam.
- Tanggal pemberian pinjaman.
- Jangka waktu pembayaran.
- Cara dan jadwal pembayaran.
- Ketentuan kalau terjadi keterlambatan atau gagal bayar.
- Hak dan kewajiban masing-masing pihak.
- Tanda tangan para pihak.
Adanya dokumen tertulis membuat kesepakatan lebih mudah dibuktikan apabila kemudian muncul perselisihan.
Apakah Surat Perjanjian Hutang Piutang Sah Secara Hukum?
Bisa sah secara hukum, selama memenuhi syarat sah perjanjian yang berlaku. Jadi, bukan sekadar ada tanda tangan atau materai yang membuat sebuah surat otomatis menjadi perjanjian yang sah.
Syarat Sah Perjanjian Menurut KUHPerdata (Pasal 1320)
Pasal 1320 KUHPerdata menetapkan empat syarat sah perjanjian, yaitu:
- Kesepakatan para pihak, artinya kedua pihak menyetujui perjanjian tanpa paksaan.
- Kecakapan untuk membuat perjanjian, yaitu para pihak memiliki kapasitas hukum untuk membuat perjanjian.
- Adanya suatu hal tertentu, dalam konteks utang berarti objek atau jumlah utang harus jelas.
- Sebab yang halal, artinya isi dan tujuan perjanjian tidak bertentangan dengan hukum.
Dua syarat pertama berkaitan dengan pihak yang membuat perjanjian, sedangkan dua lainnya berkaitan dengan objek dan tujuan perjanjian.
Kekuatan Suratnya sebagai Alat Bukti
Surat perjanjian bisa menjadi alat bukti tertulis ketika terjadi perselisihan. Untuk itu, semakin jelas isi dokumennya, semakin mudah bagi para pihak untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah disepakati.
Jangan hanya menulis, “Saya berjanji akan membayar utang.” Cantumkan nominal, tanggal jatuh tempo, mekanisme pembayaran, serta ketentuan lain yang memang disepakati.
Perlukah Materai dalam Surat Perjanjian Hutang?
Materai sering dianggap sebagai syarat agar surat perjanjian hutang menjadi sah. Anggapan tersebut kurang tepat.
Materai pada dasarnya berkaitan dengan bea meterai atas dokumen, bukan yang menentukan sah atau tidaknya suatu perjanjian.
Dengan kata lain, surat perjanjian tidak menjadi sah hanya karena ditempel materai. Yang menentukan sahnya perjanjian tetap kembali pada terpenuhinya syarat dalam Pasal 1320 KUHPerdata.
Fungsi Materai Rp10.000
Untuk dokumen yang dikenakan bea meterai, tarif bea meterai yang berlaku adalah Rp10.000.
Materai memberikan konsekuensi perpajakan atas dokumen dan berkaitan dengan penggunaannya sebagai dokumen yang punya nilai pembuktian tertentu. Namun, materai bukan pengganti tanda tangan, kesepakatan, atau syarat sah perjanjian.
Di Mana Materai Sebaiknya Ditempatkan?
Kalau menggunakan materai tempel, penempatannya perlu memperhatikan ketentuan bea meterai yang berlaku. Dalam praktik surat perjanjian, materai biasanya ditempatkan pada bagian tanda tangan pihak yang berkepentingan.
Apakah Surat Perjanjian Hutang Tulis Tangan Itu Sah?
Bisa saja. Tidak semua surat perjanjian hutang harus dibuat menggunakan komputer atau melalui notaris.
Surat perjanjian hutang tulis tangan bisa menjadi bukti tertulis selama isi kesepakatannya jelas dan dibuat oleh para pihak yang terlibat.
Agar lebih aman, pastikan surat mencantumkan:
- Nama lengkap dan identitas para pihak.
- Jumlah utang secara angka dan tulisan.
- Tanggal transaksi.
- Tanggal atau jadwal pelunasan.
- Cara pembayaran.
- Ketentuan kalau terjadi keterlambatan.
- Tanda tangan para pihak.
- Saksi kalau diperlukan.
- Klausul lain yang memang disepakati.
Hindari dokumen yang terlalu singkat sampai menimbulkan banyak tafsir. Misalnya, hanya mencantumkan nominal utang tanpa menjelaskan kapan dan bagaimana utang tersebut harus dibayar.
Contoh Surat Perjanjian Hutang Piutang Sederhana
Berikut contoh format yang bisa disesuaikan dengan kondisi Anda:

Contoh Surat Hutang Piutang Sederhana (Sumber: Scribd)
Catatan: contoh di atas adalah template sederhana, bukan pengganti nasihat hukum. Untuk transaksi dengan nilai besar atau kondisi yang kompleks, sebaiknya dokumen diperiksa oleh profesional hukum.
Tips Agar Surat Perjanjian Hutang Kuat dan Aman
Jangan hanya fokus pada penggunaan materai. Beberapa hal berikut justru lebih penting:
1. Tulis nominal dengan jelas
Gunakan angka sekaligus tulisan untuk mengurangi risiko kesalahan atau perbedaan penafsiran.
2. Tentukan tanggal pembayaran
Jangan hanya menulis “akan dibayar secepatnya”. Cantumkan tanggal jatuh tempo atau jadwal cicilan.
3. Jelaskan cara pembayaran
Misalnya pembayaran dilakukan melalui transfer atau secara tunai.
4. Atur konsekuensi keterlambatan
Kalau ada denda, jaminan, atau mekanisme penyelesaian tertentu, tuliskan sesuai kesepakatan.
5. Pastikan identitas para pihak lengkap
Nama dan identitas yang jelas membantu memastikan siapa yang terikat dalam perjanjian.
6. Simpan dokumen dan bukti transaksi
Selain surat perjanjian, simpan bukti transfer, kuitansi, percakapan terkait kesepakatan, dan bukti pembayaran cicilan.
Kalau Utang Sudah Menumpuk di Banyak Tempat, Apa yang Bisa Dilakukan?
Surat perjanjian hutang piutang cocok digunakan untuk mendokumentasikan pinjaman antara individu atau pihak tertentu. Namun, kondisinya berbeda kalau kewajiban Anda sudah tersebar di kartu kredit, KTA, pinjol, PayLater, atau kredit lainnya.
Dalam kondisi seperti ini, membuat surat perjanjian baru belum tentu menyelesaikan masalah utamanya. Anda perlu melihat total utang, bunga, cicilan, jatuh tempo, dan kemampuan bayar secara keseluruhan.
Kalau kewajiban sudah terlalu banyak, salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah konsolidasi atau negosiasi dengan kreditur agar tersedia skema pembayaran yang lebih realistis.
Kalau Anda membutuhkan pendampingan untuk memetakan kondisi utang dan mencari opsi penyelesaian, Anda bisa berkonsultasi dengan FLIN untuk melihat solusi yang sesuai dengan kondisi Anda.
Baca Juga:
Dengan demikian, surat perjanjian hutang piutang berfungsi untuk mencatat kesepakatan antara kreditur dan debitur secara tertulis. Surat ini bisa dibuat sederhana, termasuk dengan tulisan tangan, selama memenuhi unsur perjanjian yang sah dan memuat kesepakatan secara jelas.
Materai bukan faktor yang sendirian menentukan sah atau tidaknya perjanjian. Yang lebih penting adalah adanya kesepakatan, pihak yang cakap, objek yang jelas, serta tujuan perjanjian yang tidak bertentangan dengan hukum.
Kalau masalahnya bukan lagi sekadar satu utang antarindividu, tetapi sudah berupa banyak kewajiban yang sulit dibayar, jangan menunggu sampai semuanya menjadi lebih berat.
Konsultasikan kondisi utang Anda dengan FLIN untuk mengetahui opsi penyelesaian yang bisa dipertimbangkan, mulai dari restrukturisasi pembayaran hingga konsolidasi hutang. Yuk, konsultasi secara GRATIS sekarang.
Cek info lebih lanjut terkait pengelolaan utang dan dokumennya di bawah ini :