Risiko likuiditas adalah kondisi ketika seseorang atau perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek karena dana tunai yang tersedia tidak cukup.
Risiko ini akan terasa ketika cicilan, tagihan, atau adanya kebutuhan urgent datang bersamaan, sedangkan arus kas sedang kurang baik. Untuk itu, berikut penjelasan selengkapnya.
Risiko Likuiditas Menurut OJK dan Bank Indonesia
Dalam dunia perbankan, risiko likuiditas menjadi salah satu risiko utama yang diawasi oleh regulator seperti OJK dan Bank Indonesia.
Risiko likuiditas artinya sebagai risiko akibat ketidakmampuan memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas atau aset likuid berkualitas tinggi tanpa mengganggu kondisi keuangan secara signifikan.
OJK fokusnya pada kecukupan likuiditas mikro-prudensial (individu bank) agar mampu memenuhi kewajiban harian dan jangka pendek. Sedangkan, BI mengelola likuiditas makroekonomi dan memastikan stabilitas sistem pembayaran.
Keduanya wajib menjaga kondisi likuiditas tetap sehat agar operasional tetap stabil dan terkendali.
Jenis-Jenis Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas ternyata terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut diantaranya:
- Funding Liquidity Risk (Risiko Likuiditas Pendanaan)
Funding liquidity risk terjadi ketika perusahaan atau bank kesulitan mendapatkan dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran.
Sebagai contoh, ketika bank kesulitan memenuhi penarikan dana nasabah atau saat perusahaan kekurangan kas untuk membayar utang jangka pendek.
- Market Liquidity Risk (Risiko Likuiditas Pasar)
Market liquidity risk muncul ketika aset sulit dijual cepat di pasar tanpa menyebabkan penurunan harga yang signifikan.
Contohnya ketika properti sulit dijual dalam waktu cepat atau saat saham tertentu sulit menemukan pembeli.
Penyebab Terjadinya Risiko Likuiditas
Penyebab terjadinya risiko likuiditas bisa berbeda tergantung kondisi dan sektor.
- Pada Perbankan
Dalam dunia bank, risiko likuiditas biasanya dipicu oleh penarikan dana besar-besaran oleh nasabah, adanya ketidakseimbangan arus kas, atau ketika terlalu banyak kredit yang macet. - Pada Perusahaan
Perusahaan bisa mengalami risiko likuiditas karena adanya penjualan yang menurun, piutang sulit tertagih, atau ketika beban operasional terlalu besar. - Pada Keuangan Pribadi
Dalam kehidupan sehari-hari, risiko likuiditas juga sering terjadi, misalnya ketika penghasilan tidak cukup untuk kebutuhan, terlalu banyak cicilan, tidak punya dana darurat, hingga ketika pengeluaran lebih besar dari pemasukan.
Dampak Risiko Likuiditas
Kalau tidak ditangani, dampak dari risiko likuiditas bisa cukup serius.
Bagi Bank
Likuiditas yang buruk bisa mengganggu operasional, termasuk bagi bank. Kepercayaan nasabah juga bisa menurun, dan stabilitas keuangan bisa terganggu.
Bagi Perusahaan
Ketika risiko likuiditas terjadi, perusahaan bisa kesulitan membayar supplier, membayar gaji karyawan, sampai dengan menjalankan operasional bisnis
Bagi Individu
Dalam keuangan pribadi, dampak ketika risiko likuiditas terjadi biasanya akan terasa dalam bentuk misalnya kesulitan bayar cicilan, terlilit hutang, dan akhirnya tertekan hingga stres.
Contoh Kasus Risiko Likuiditas
Supaya lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh sederhana kasus dari risiko likuiditas.
Contoh di Sektor Perbankan
Misalnya banyak nasabah menarik dana bersamaan, sementara bank tidak punya cukup kas siap pakai.
Contoh di Sektor Perusahaan
Perusahaan punya banyak aset dan piutang, tapi tidak punya cukup uang tunai untuk membayar kewajiban yang jatuh tempo.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Seseorang punya kendaraan dan aset lain, tapi kesulitan bayar cicilan bulanan karena tidak memiliki dana tunai yang cukup.
Cara Mengukur Risiko Likuiditas
Dalam dunia keuangan, ada beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur risiko likuiditas. Berikut beberapa cara mengukur risiko likuiditas:
Liquidity Coverage Ratio (LCR)
LCR digunakan untuk melihat apakah lembaga keuangan punya cukup aset likuid untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.
Net Stable Funding Ratio (NSFR)
NSFR digunakan untuk mengukur kestabilan sumber pendanaan jangka panjang.
Rasio Likuiditas Konvensional
Ada juga rasio seperti current ratio, quick ratio, dan cash ratio yang digunakan untuk melihat kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Cara Mengelola dan Mengatasi Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas sebenarnya bisa dikurangi kalau dikelola dengan baik. Berikut cara mengelola dan mengatasinya:
- Bagi Perbankan dan Perusahaan
Biasanya dilakukan dengan menjaga cadangan kas, mengatur arus kas lebih sehat, mengontrol utang jangka pendek, dan diversifikasi sumber pendanaan. - Bagi Keuangan Pribadi
Dalam kehidupan pribadi, beberapa langkah yang bisa dilakukan agar risiko likuiditas tidak terjadi, bisa dimulai dari menyusun anggaran keuangan, mengurangi cicilan berlebihan, menyiapkan dana darurat, hingga menghindari utang konsumtif.
Demikian penjelasan mengenai risiko likuiditas, yang mana kondisi ini terjadi ketika dana tunai tidak cukup untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Makanya, kalau tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa mengganggu keuangan secara keseluruhan.
Apakah Anda saat ini sedang mengalami dampak dari risiko likuiditas karena terlalu banyak cicilan? Tenang, Anda bisa konsultasi dengan FLIN untuk mendapatkan solusi dari strategi pembayaran, mulai dari restrukturisasi hingga konsolidasi utang. Penasran? Yuk, klik di bawah ini.
Baca lainnya seputar likuiditas lewat artikel-artikel di bawah ini:
- Likuiditas, Panduan Lengkap untuk Memahaminya
- Bagaimana Menilai Finansial Seseorang Dari Rasio Likuiditas?