Daftar isi

Retail Therapy: Belanja Buat Obat Stres, Kapan Wajar dan Kapan Sudah Bahaya?

Retail Therapy, Belanja Buat Obat Stres, Kapan Wajar dan Kapan Sudah Bahaya?

Pernahkah sebelum tidur, Anda membuka marketplace “cuma buat lihat-lihat”?

Awalnya, memang tidak ada rencana untuk membeli apa pun. Tapi begitu melihat diskon, gratis ongkir, atau live shopping, tanpa sadar ada satu-dua barang yang akhirnya masuk keranjang dan di-checkout.

Anehnya, setelah transaksi beres, hati memang terasa sedikit lebih enak.

Kebiasaan ini disebut retail therapy, yaitu cara meredakan stres, membenahi suasana hati, atau sekadar memberikan hadiah buat diri sendiri.

Lalu, apakah retail therapy itu wajar? Atau justru bisa jadi kebiasaan yang membahayakan kondisi keuangan? Langsung saja kita bahas di sini.

Apa Itu Retail Therapy?

Retail therapy adalah kebiasaan berbelanja untuk membenahi suasana hati, bukan karena memang memerlukan suatu barang.

Istilah ini dipakai ketika seseorang membeli sesuatu sebagai pelarian dari stres, bosan, sedih, kecewa, atau tekanan yang sedang dialami.

Contohnya, setelah target pekerjaan gagal tercapai, Anda memutuskan membeli sepatu baru sebagai “hadiah” untuk diri sendiri. Atau setelah bertengkar dengan pasangan, Anda segera membuka aplikasi belanja dan checkout beberapa produk yang sebelumnya hanya numpang di wishlist.

Berbeda dengan belanja yang sudah direncanakan, retail therapy lebih dipengaruhi oleh kondisi emosi.

Tapi, bukan berarti retail therapy selalu jelek.

Dalam situasi tertentu, membeli sesuatu yang memang sudah lama diinginkan bisa mendatangkan rasa senang dan membantu mengangkat mood. Masalah muncul ketika belanja menjadi jalan satu-satunya untuk menghadapi stres dan dilakukan berulang-ulang tanpa peduli kemampuan finansial.

Kenapa Belanja Bisa Membuat Mood Lebih Baik?

Kalau dipikir, membeli barang tidak menghilangkan akar masalah. Terus, kenapa setelah checkout Anda malah merasa lebih lega? Jawabannya erat kaitannya dengan cara otak dan emosi bekerja saat kita mengambil keputusan.

Peran Dopamin dalam Proses Belanja

Ketika menemukan barang incaran atau berhasil mendapat promo menarik, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang terkait rasa senang dan penghargaan.

Menariknya, rasa senang ini kerap muncul bahkan sebelum barang mendarat di rumah.

Mulai dari memilih produk, memasukkannya ke keranjang, sampai menunggu notifikasi “Pesanan Anda Berhasil Dibuat”, semuanya bisa memicu sensasi yang menyenangkan.

Itu sebabnya banyak orang mendapati mood-nya membaik setelah berbelanja.

Sayangnya, efek tadi biasanya hanya bertahan sementara. Setelah rasa senangnya hilang, sebagian orang kembali mencari pengalaman yang sama dengan membeli barang lain.

Ilusi Kontrol Saat Hidup Terasa Kacau

Saat pekerjaan sedang berantakan atau banyak masalah yang tidak bisa Anda kendalikan, berbelanja sering kali menyuguhkan perasaan seolah-olah Anda masih punya kendali atas sesuatu.

Memilih warna, membandingkan harga, lalu memutuskan membeli sebuah produk adalah keputusan yang sepenuhnya ada di tangan Anda.

Meski sederhana, proses ini bisa memberi rasa puas karena ada satu hal yang berhasil Anda kendalikan di tengah situasi yang serba tidak menentu.

Tapi, rasa lega tersebut umumnya hanya bersifat sementara. Begitu masalah utama belum juga selesai, keinginan untuk kembali berbelanja bisa timbul lagi.

Efek “Treat Yourself” dan Self-Reward

Memberi hadiah kepada diri sendiri sebenarnya bukan perkara yang keliru. Malah, self-reward bisa menjadi bentuk apresiasi atas usaha yang sudah Anda lakukan.

Yang perlu dicermati adalah frekuensinya.

Kalau setiap kali lelah, stres, atau berhasil menuntaskan pekerjaan Anda selalu membeli sesuatu, lama-lama pengeluaran bisa sulit dikemudikan.

Apalagi jika hadiah itu mulai dibiayai menggunakan PayLater atau kartu kredit.

Tanda-Tanda Retail Therapy Sudah Berbahaya

Belanja untuk menyenangkan diri sesekali masih terbilang wajar.

Tapi, kalau kebiasaan ini mulai mengusik kondisi keuangan atau kehidupan sehari-hari, artinya Anda perlu lebih berhati-hati. Perhatikan beberapa tanda berikut:

Belanja Setiap Kali Merasa Stres atau Sedih

Coba ingat lagi beberapa pembelian terakhir yang Anda lakukan. Benarkah karena Anda memerlukan barang itu? Atau justru karena sedang bad mood?

Kalau nyaris tiap kali merasa stres, bosan, marah, atau sedih Anda segera membuka aplikasi belanja, bisa jadi retail therapy sudah berubah menjadi pelarian emosional.

Soalnya, yang hilang cuma rasa tidak nyaman untuk sesaat. Sementara biang stresnya tetap bercokol.

Menyesal Setelah Belanja tapi Tetap Mengulangi

Kalau penyesalan kerap muncul tetapi Anda terus mengulang kebiasaan yang sama beberapa hari atau minggu berikutnya, itu menjadi salah satu sinyal yang patut dicurigai.

Artinya, keputusan membeli sudah lebih banyak didorong oleh impuls sesaat ketimbang pertimbangan yang rasional.

Mulai Menyembunyikan Pengeluaran dari Pasangan atau Keluarga

Mula-mula, mungkin Anda tidak merasa ada yang ganjil dengan kebiasaan belanja.

Namun, kalau mulai sengaja menghapus riwayat transaksi, menyembunyikan paket yang tiba, atau tidak jujur saat ditanya harga barang yang dibeli, kondisi ini pantas diwaspadai.

Bukan karena barang yang dibeli, melainkan karena Anda mulai merasa bersalah atas pengeluaran itu.

Tagihan Kartu Kredit atau PayLater Terus Menggembung

Retail therapy juga mulai menjadi soal ketika pengeluaran tidak lagi dibayar memakai uang yang memang sudah siap.

Misalnya, Anda menggunakan PayLater atau kartu kredit supaya tetap bisa berbelanja, lalu bulan depannya hanya sanggup membayar cicilan minimumnya saja.

Kalau kondisi ini terus berputar, utang bakal semakin susah dikelola karena bunga dan tagihan terus mengalir.

Tidak Bisa Berhenti Meski Tahu Uang Sudah Tipis

Satu pertanda retail therapy mulai menjadi ganjalan adalah ketika Anda tetap berbelanja walaupun sadar kondisi keuangan sedang tidak sehat.

Misalnya, saldo rekening tinggal sedikit atau anggaran bulan ini nyaris habis. Tapi, begitu lihat promo atau sedang dirundung stres, Anda tetap mengambil keputusan untuk checkout.

Kalau situasi begini sering terulang, berarti keputusan belanja sudah lebih banyak digerakkan oleh dorongan emosional daripada hitungan keuangan.

Barang yang Dibeli Jarang atau Tidak Pernah Dipakai

Coba periksa lagi isi lemari atau riwayat pesanan Anda.

Apakah ada pakaian yang masih terpasang label? Alat olahraga yang hanya dipakai sekali? Atau peralatan dapur yang sejak datang tidak pernah disentuh?

Kalau jawabannya iya, bisa jadi Anda lebih menikmati proses membeli ketimbang manfaat barang tersebut.

Ini cukup lumrah terjadi pada retail therapy. Rasa senang timbul saat memilih dan membeli barang, tetapi begitu barang sampai, antusiasme itu perlahan menguap.

Akibatnya, barang cuma menumpuk di rumah, sementara uang yang sudah keluar tidak bisa kembali.

Retail Therapy vs Impulsive Buying vs Compulsive Buying

Retail therapy adalah kebiasaan berbelanja untuk membenahi suasana hati.

Seseorang membeli barang karena ingin merasa lebih baik setelah mengalami stres, sedih, atau tekanan tertentu. Artinya, emosi jadi alasan utama seseorang berbelanja.

Sementara itu, impulsive buying adalah pembelian yang terjadi secara mendadak tanpa rencana.

Pemicunya tidak mesti karena stres. Bisa juga karena tergoda diskon, flash sale, rekomendasi influencer, atau takut barang habis. Jadi, fokusnya ada pada keputusan membeli yang terjadi secara tiba-tiba.

Di sisi lain, compulsive buying merupakan kondisi yang lebih serius.

Seseorang merasakan dorongan yang amat sulit dikendalikan untuk berbelanja meski sadar bahwa kebiasaan itu sudah menimbulkan ganjalan, seperti utang yang menggunung atau kondisi keuangan yang merosot.

Kalau retail therapy sesekali masih bisa dianggap wajar, compulsive buying biasanya memerlukan penanganan yang intens karena sudah menyangkut kontrol diri dan kondisi psikologis.

Hubungan Retail Therapy dengan Utang

Retail therapy mungkin bermula dari satu-dua pembelian untuk membenahi suasana hati.

Tapi, kalau dilakukan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, kebiasaan ini bisa menjadi pintu masuk menuju utang konsumtif.

Pengeluaran kecil yang terjadi berulang kerap terasa ringan di depan, tetapi bisa berubah menjadi tagihan besar di penghujung bulan.

PayLater dan Kartu Kredit Mempermudah Retail Therapy

Kalau dulu Anda harus berpikir dua kali sebelum belanja karena uang di dompet terbatas, kini prosesnya amat gampang.

Cukup pilih metode pembayaran seperti PayLater atau kartu kredit, lalu transaksi langsung beres.

Kemudahan ini memang membantu dalam situasi tertentu. Namun, di sisi lain juga membuat sebagian orang merasa seakan-akan tidak sedang mengeluarkan uang.

Akibatnya, keputusan membeli menjadi lebih spontan karena beban pembayarannya baru akan terasa begitu tagihan mampir.

Kalau kebiasaan ini terus berulang, retail therapy yang mulanya hanya sesekali bisa berganti menjadi rutinitas bulanan.

Dari “Cuma Rp50 Ribu” Jadi Jutaan Tanpa Sadar

Satu alasan retail therapy terasa aman adalah karena nominal tiap pembeliannya kerap tidak terlampau besar.

Hari ini membeli kopi Rp40 ribu. Besok checkout aksesori kamar Rp75 ribu. Lalu membeli skincare saat flash sale seharga Rp120 ribu.

Kalau dilihat satu per satu, pengeluaran tadi memang tidak terasa membebani.

Tapi, setelah dijumlahkan di ujung bulan, totalnya bisa menembus jutaan rupiah. Apalagi kalau sebagian besar transaksi dilakukan memakai PayLater atau kartu kredit.

Inilah yang membuat banyak orang terkejut ketika menatap tagihan bulanannya.

Stres Karena Utang → Belanja Lagi → Siklus yang Sulit Diputus

Ironisnya, retail therapy bisa menciptakan putaran yang sulit diputus.

Mulanya, mungkin berbelanja karena sedang stres agar suasana hati membaik.

Tapi, setelah tagihan datang dan jumlahnya di luar dugaan, timbul stres anyar karena mesti memikirkan cara melunasinya.

Bukannya menyelesaikan urusan, yang terjadi malah kembali berbelanja untuk meredakan cemas yang sedang dirasakan.

Kalau pola ini terus berputar, utang akan semakin menggelembung sementara biang stresnya tidak pernah benar-benar tuntas.

Karena itulah, penting untuk menyadari sejak dini apakah belanja masih menjadi wujud self-reward yang sehat atau sudah beralih menjadi kebiasaan yang memperburuk kondisi keuangan.

Begitulah penjelasan tentang retail therapy, yang ternyata bukan sesuatu yang senantiasa jelek. Sesekali membeli barang untuk mengapresiasi diri sendiri atau membenahi suasana hati adalah hal yang wajar.

Masalahnya hadir ketika belanja menjadi pelarian setiap kali merasa stres, sedih, atau kecewa, apalagi jika mulai bersandar pada PayLater, kartu kredit, atau pinjaman untuk membiayainya.

Kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa menjelma menjadi utang konsumtif yang semakin susah dituntaskan.

Kalau Anda merasa kebiasaan belanja sudah membuat tagihan bertimbun atau cicilan mulai sukar dikemudikan, jangan menanti sampai kondisinya kian pelik.

FLIN siap membantu Anda merancang strategi untuk menyelesaikan utang tersebut melalui beragam solusi, termasuk restrukturisasi pembayaran hingga konsolidasi utang, sehingga pembayaran menjadi lebih tertata dan kondisi keuangan bisa kembali sehat.

Tertarik? Segera konsultasi sekarang secara GRATIS dengan klik tombol di bawah ini.

Punya masalah belanja lainnya? Cek di artikel bawah ini:

Jangan lupa untuk share artikel ini di sosial mediamu!

Anda Tidak Perlu Menanggung Ini Sendirian

Konsultasikan kondisi keuangan Anda dan mulai rencana pelunasan yang jelas bersama FLIN

Artikel terkait

Retail Therapy, Belanja Buat Obat Stres, Kapan Wajar dan Kapan Sudah Bahaya?

Cara Mengelola Keuangan

Retail Therapy: Belanja Buat Obat Stres, Kapan Wajar dan Kapan Sudah Bahaya?

Impulsive Buying, Kenapa Selalu Khilaf dan Cara Berhentinya

Cara Mengelola Keuangan

Impulsive Buying, Kenapa Selalu “Khilaf” dan Cara Berhentinya

Kredit Bermasalah? Ini Panduan Untuk Mengatasinya

Cara Mengelola Keuangan

Kredit Bermasalah? Ini Panduan Untuk Mengatasinya!

Cara Melunasi Shopee PayLater Panduan & Solusi Kalau Gagal (1)

Kurang Cicilan s.d 70% dengan FLIN

  • Konsultasi Gratis
  • Tanpa Jaminan
  • Resmi Terdaftari KOMDIGI