Daftar isi

Impulsive Buying, Kenapa Selalu “Khilaf” dan Cara Berhentinya

Impulsive Buying, Kenapa Selalu Khilaf dan Cara Berhentinya

Pernahkah Anda membuka marketplace cuma buat beli sabun mandi, lalu setengah jam kemudian keranjang belanja sudah penuh dengan tumbler, headphone, baju, sampai dekorasi kamar yang sebetulnya tidak Anda butuhkan?

Atau mungkin Anda sering bilang, “Mumpung lagi diskon.” Padahal setelah barangnya sampai, Anda baru sadar barang itu tidak terlalu penting.

Kalau kejadian begini cuma sesekali, mungkin tidak masalah. Tapi kalau hampir tiap bulan Anda kesusahan menahan hasrat belanja sampai akhirnya bergantung pada PayLater, kartu kredit, atau bahkan pinjaman cuma buat nutup tagihan, bisa jadi Anda sedang mengalami impulsive buying.

Lantas, impulsive buying itu sebenarnya apa? Kenapa seseorang bisa terus “khilaf” waktu lihat promo? Dan bagaimana cara menghentikannya sebelum kebiasaan ini berubah jadi masalah keuangan?

Apa Itu Impulsive Buying?

Impulsive buying adalah perilaku membeli sesuatu secara spontan tanpa rencana sebelumnya.

Keputusan membeli biasanya muncul tiba-tiba karena lihat diskon, promo terbatas, rekomendasi di media sosial, atau cuma karena merasa barangnya menarik.

Beda sama belanja yang sudah direncanakan, impulsive buying lebih banyak didorong oleh emosi ketimbang kebutuhan.

Contohnya, Anda buka aplikasi belanja cuma buat cek status pesanan. Tapi begitu lihat banner Flash Sale 80%, Anda malah beli sepatu baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Waktu itu keputusan membeli Anda rasakan masuk akal. Tapi beberapa hari kemudian Anda sadar, yang Anda beli tidak terlalu penting.

Sesekali belanja spontan sebenarnya wajar. Yang perlu diwaspadai adalah saat kebiasaan itu terjadi terus-terusan sampai mengacaukan kondisi keuangan.

Ciri-Ciri Impulsive Buying

Tidak semua orang yang sering belanja bisa dibilang mengalami impulsive buying. Berikut beberapa ciri yang paling sering muncul.

  • Membeli barang tanpa bikin rencana sebelumnya.
  • Sulit menahan keinginan waktu lihat promo atau diskon.
  • Lebih mementingkan rasa pengin punya ketimbang benar-benar butuh barang itu.
  • Sering merasa menyesal setelah barang terbeli.
  • Belanja jadi cara memperbaiki suasana hati saat lagi stres, sedih, atau bosan.
  • Pengeluaran belanja sering melebihi anggaran yang sudah dibuat.

Kalau beberapa kebiasaan tadi sering Anda alami, mungkin sudah saatnya mengevaluasi pola belanja sebelum berdampak ke kondisi keuangan.

Jenis-Jenis Impulsive Buying

Tidak semua pembelian impulsif terjadi karena alasan yang sama. Peneliti membaginya ke dalam beberapa jenis berdasarkan penyebab seseorang memutuskan beli suatu barang.

Pure Impulse Buying

Ini bentuk impulsive buying yang paling spontan.

    Seseorang membeli barang cuma karena tertarik waktu melihatnya, tanpa pernah berniat beli sebelumnya.

    Contohnya, Anda lagi jalan di pusat perbelanjaan cari hadiah ulang tahun teman. Di tengah jalan, Anda lihat toko sepatu lagi promo besar-besaran. Padahal tidak lagi butuh sepatu, Anda tetap beli karena sayang kalau diskonnya kelewat.

    Reminder Impulse Buying

    Jenis ini muncul waktu suatu produk mengingatkan Anda pada sesuatu.

      Misalnya, waktu lewat rak pasta gigi di supermarket, Anda baru ingat stok di rumah hampir abis. Akhirnya Anda langsung masukin ke keranjang walau sebelumnya tidak ada di daftar belanja.

      Suggestion Impulse Buying

      Pembelian terjadi karena seseorang baru sadar manfaat suatu produk setelah lihat penjelasan atau promosi.

        Contohnya, Anda nonton video review blender yang katanya bisa bikin jus, giling bumbu, sampai hancurkan es. Awalnya tidak niat beli, tapi setelah lihat berbagai fiturnya, Anda merasa barang itu bakal berguna dan langsung checkout.

        Planned Impulse Buying

        Sepintas kedengarannya bertentangan, tapi jenis ini memang ada.

          Anda sebenarnya sudah berniat beli suatu barang, tapi nunggu momen tertentu, misalnya waktu ada promo, cashback, atau gratis ongkir.

          Misalnya, Anda memang pengin beli koper baru. Tapi pembeliannya baru dilakukan saat ada promo tanggal kembar karena harganya jauh lebih murah.

          Penyebab Psikologis di Balik Impulsive Buying

          Ternyata keputusan membeli tidak selalu dipengaruhi logika. Dalam banyak kasus, faktor psikologis justru punya peran yang jauh lebih besar.

          Berikut beberapa penyebab psikologis di balik impulsive buying:

          Dopamin dan “Reward System” Otak

          Tiap kali Anda membeli sesuatu yang diinginkan, otak melepas dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan puas.

            Menariknya, dopamin tidak cuma muncul waktu barang sudah di tangan. Justru sensasi paling kuat sering muncul waktu Anda lagi milih barang, masukin ke keranjang, atau tekan tombol Checkout.

            Inilah yang bikin belanja terasa menyenangkan, bahkan sebelum paket nyampe rumah.

            Sayangnya, rasa senang itu biasanya cuma bertahan sebentar. Setelah itu, sebagian orang balik lagi cari pengalaman yang sama dengan beli barang lain.

            Emotional Spending (Belanja karena Stres, Sedih, atau Bosan)

            Tidak sedikit orang yang jadikan belanja sebagai pelarian waktu suasana hati lagi jelek.

              Misalnya, setelah dimarahin atasan, bertengkar sama pasangan, atau ngerasa penat gara-gara kerjaan. Tanpa sadar, Anda buka aplikasi belanja cuma buat “cuci mata”. Tapi beberapa menit kemudian, ada barang yang berhasil di-checkout.

              Ini yang dikenal sebagai emotional spending, yaitu kebiasaan belanja buat perbaiki suasana hati, bukan karena beneran butuh barang itu.

              Masalahnya, emosi negatif mungkin mereda sesaat. Tapi tagihan yang datang setelahnya justru bisa jadi sumber stres baru.

              Fear of Missing Out (FOMO)

              Pernah beli barang cuma karena takut kehabisan?

                Misalnya muncul tulisan:

                • Sisa 2 stok lagi!
                • Flash Sale berakhir dalam 10 menit!
                • 1.500 orang lagi lihat produk ini.

                Kalimat macam ini memicu rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO).

                Akibatnya, Anda buru-buru beli tanpa sempat mikir apakah barang itu emang diperlukan atau enggak.

                Anchoring Effect dan Diskon Palsu

                Pernah liat harga jaket dicoret dari Rp999.000 jadi Rp499.000, terus langsung ngerasa diskonnya gede banget?

                  Padahal bisa jadi harga normalnya emang tidak pernah beneran Rp999.000.

                  Fenomena ini disebut anchoring effect. Otak pakai harga pertama sebagai patokan, jadi harga setelah diskon kelihatan jauh lebih murah, walau belum tentu beneran jadi penawaran terbaik.

                  Karena itu, jangan langsung silau sama persentase diskon. Coba bandingin dulu harga produk yang sama di toko lain sebelum mutusin beli.

                  Pengaruh Media Sosial dan Influencer

                  Media sosial bikin kita jauh lebih sering terpapar produk dibanding beberapa tahun lalu.

                    Waktu buka Instagram, TikTok, atau YouTube, Anda mungkin lihat seseorang pakai tas baru, nyobain skincare terbaru, atau bagi-bagi hasil belanjaan saat live shopping.

                    Lama-lama, muncul keinginan buat ikutan punya barang yang sama.

                    Belum lagi algoritma media sosial bakal terus nampilin produk serupa berdasarkan apa yang pernah Anda lihat atau cari sebelumnya. Akibatnya, godaan buat belanja kerasa datang terus-terusan.

                    Faktor yang Memperparah Impulsive Buying di Era Digital

                    Kalau dulu seseorang harus dateng ke toko buat belanja, sekarang semuanya bisa dilakukan cuma dalam hitungan detik lewat ponsel.

                    Kemudahan inilah yang bikin impulsive buying makin sering terjadi.

                    Flash Sale dan Countdown Timer

                    Flash sale memang dirancang supaya orang segera ambil keputusan. Adanya hitungan mundur bikin Anda ngerasa tidak punya banyak waktu buat mikir.

                      Padahal setelah promo abis, sering kali muncul promo lain dengan potongan harga yang tidak beda jauh.

                      Jadi, jangan biarin countdown timer bikin Anda buru-buru beli sesuatu yang sebenarnya tidak masuk daftar kebutuhan.

                      PayLater dan Pinjol: Belanja Tanpa “Merasakan” Uang Keluar

                      Bayar pakai uang tunai kerasa beda dibandingkan tekan tombol Bayar dengan PayLater.

                        Waktu pakai PayLater atau kartu kredit, Anda tidak lihat saldo langsung berkurang. Akibatnya, pengeluaran kerasa lebih enteng, walau kewajiban bayar tetap ada di bulan depan.

                        Inilah yang bikin sebagian orang lebih gampang belanja di luar kemampuan finansialnya. Kalau tidak dikontrol, tagihan bisa terus numpuk sampai akhirnya susah dilunasi.

                        One-Click Purchase

                        Dulu Anda masih punya waktu mikir karena harus dateng ke kasir atau transfer duit manual. Sekarang, cukup satu klik, transaksi langsung kelar.

                          Kemudahan ini memang praktis, tapi juga ngurangin waktu buat nimbang-nimbang apakah barang itu beneran dibutuhkan.

                          Makin sedikit “hambatan” saat belanja, makin gampang juga seseorang beli secara impulsif.

                          Algoritma Rekomendasi Produk

                          Pernah ngerasa marketplace kayak tau apa yang lagi Anda inginkan?

                            Misalnya, setelah cari sepatu lari, beberapa jam kemudian muncul rekomendasi kaus olahraga, jam tangan olahraga, sampai botol minum.

                            Itu bukan kebetulan.

                            Marketplace pakai algoritma buat pelajari kebiasaan pengguna, terus nampilin produk yang kemungkinan besar menarik perhatian.

                            Kalau tidak hati-hati, rekomendasi ini bisa bikin Anda terus nambahin barang ke keranjang, walau awalnya cuma niat liat-liat.

                            Dampak Impulsive Buying terhadap Keuangan

                            Sesekali beli barang di luar rencana mungkin tidak langsung ganggu kondisi keuangan. Tapi kalau kebiasaan ini terus berulang, dampaknya bisa mulai kerasa.

                            Tabungan Sulit Bertambah

                            Pernah ngerasa gaji selalu habis, padahal tidak ada pengeluaran besar?

                              Salah satu penyebabnya bisa jadi karena terlalu sering belanja kecil-kecilan yang sebenarnya tidak direncanakan.

                              Contohnya hari ini beli aksesori ponsel, besok checkout pakaian karena diskon, terus akhir pekan tergoda promo makanan. Nilainya mungkin tidak besar kalau dilihat satu-satu. Tapi kalau dijumlahin selama sebulan, angkanya bisa nyampe jutaan rupiah.

                              Akibatnya, uang yang seharusnya bisa masuk tabungan malah habis buat belanja impulsif.

                              Tagihan Kartu Kredit dan PayLater Menumpuk

                              Masalah berikutnya muncul waktu impulsive buying mulai dibayar pakai kartu kredit atau PayLater.

                                Awalnya mungkin kerasa enteng karena bayarnya bisa ditunda ke bulan depan. Tapi kalau kebiasaan belanja tidak berubah, tagihan bakal terus nambah, sementara penghasilan tetap segitu.

                                Tidak sedikit orang yang akhirnya cuma sanggup bayar cicilan minimum. Padahal sisa tagihan bakal terus kena bunga, jadi utang makin susah dilunasi.

                                Sulit Mencapai Tujuan Keuangan

                                Anda pasti punya tujuan keuangan, kayak beli rumah, siapin dana nikah, bangun dana darurat, atau mulai investasi.

                                  Sayangnya, tujuan itu sering kali tertunda karena uang yang seharusnya dialokasikan buat masa depan malah habis buat puasin keinginan sesaat.

                                  Bukan karena penghasilannya kurang, tapi karena sebagian besar duit keluar buat pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda atau bahkan tidak perlu dilakukan.

                                  Berisiko Terjebak Utang Konsumtif

                                  Kalau impulsive buying terus dibiarin, sebagian orang mulai cari cara supaya tetap bisa belanja walau duit sudah abis.

                                    Mulai dari pakai limit kartu kredit, PayLater, sampai ngajuin pinjaman baru buat nutup tagihan sebelumnya.

                                    Kalau pola begini terus berulang, utang yang awalnya kecil bisa berkembang jadi utang konsumtif yang makin susah dikontrol.

                                    Cara Mengatasi Impulsive Buying yang Benar

                                    Ngilangin kebiasaan belanja impulsif memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Tapi ada beberapa langkah simpel yang bisa bantu Anda lebih bijak sebelum keluarin uang.

                                    Terapkan Aturan 24 Jam

                                    Kalau nemu barang yang pengin dibeli, jangan langsung checkout.

                                      Coba kasih jeda 24 jam. Gunanya bukan buat nyiksa diri, tapi ngasih waktu supaya keputusan tidak didasarkan pada emosi sesaat.

                                      Sering kali, setelah satu hari lewat, keinginan beli barang itu sudah berkurang atau bahkan hilang total.

                                      Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

                                      Sebelum beli sesuatu, tanya ke diri sendiri, “Kalau saya tidak beli barang ini hari ini, apa hidup saya bakal keganggu?”

                                        Kalau jawabannya tidak, kemungkinan besar barang itu cuma keinginan, bukan kebutuhan.

                                        Pertanyaan simpel ini bisa bantu Anda mikir lebih rasional sebelum tekan tombol checkout.

                                        Buat Daftar Belanja

                                        Biasain bikin daftar sebelum belanja, baik online maupun offline. Selama belanja, usahakan cuma beli barang yang emang sudah masuk daftar.

                                          Cara ini keliatan simpel, tapi lumayan efektif buat ngurangin pembelian spontan yang tidak direncanakan.

                                          Hindari Belanja Saat Emosi

                                          Kalau lagi stres, sedih, marah, atau bahkan terlalu senang, mending tunda dulu keinginan buat belanja.

                                            Emosi sering kali bikin kita ngambil keputusan yang kurang rasional.

                                            Gantinya, coba lakuin aktivitas lain yang juga bisa perbaiki suasana hati, kayak jalan santai, olahraga, baca buku, atau ngobrol sama teman.

                                            Nonaktifkan Notifikasi Promo

                                            Tiap hari marketplace ngirim berbagai notifikasi, mulai dari flash sale, cashback, sampai voucher yang bentar lagi abis.

                                              Kalau notifikasi begini terus muncul, godaan buat buka aplikasi belanja juga makin gede.

                                              Tidak ada salahnya matiin notifikasi promo biar Anda tidak terus-terusan tergoda beli barang yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan.

                                              Gunakan Metode Cash atau Debit

                                              Kalau memungkinkan, biasain belanja pakai uang yang emang sudah ada.

                                                Waktu saldo rekening langsung berkurang, Anda biasanya bakal lebih hati-hati dibanding waktu pakai PayLater atau kartu kredit.

                                                Cara ini bantu Anda lebih sadar sama jumlah duit yang beneran keluar.

                                                Kapan Impulsive Buying Perlu Diwaspadai?

                                                Tidak semua pembelian impulsif adalah masalah.

                                                Tapi kalau kebiasaan ini mulai ngaruh ke kondisi keuangan atau kehidupan sehari-hari, sebaiknya jangan diabaikan.

                                                Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

                                                • Hampir tiap minggu beli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
                                                • Sering menyesal setelah checkout, tapi tetap ngulangin lagi.
                                                • Pakai PayLater atau kartu kredit cuma biar tetap bisa belanja.
                                                • Kesusahan bayar tagihan karena terlalu banyak pengeluaran konsumtif.
                                                • Mulai nyembunyiin kebiasaan belanja dari pasangan atau keluarga karena ngerasa tidak enak.

                                                Kalau beberapa kondisi tadi mulai sering terjadi, artinya masalahnya bukan lagi soal belanja, tapi sudah mulai ngaruh ke kesehatan finansial Anda.

                                                Jadi, impulsive buying adalah kebiasaan membeli barang secara spontan tanpa rencana yang matang.

                                                Sesekali beli barang di luar rencana emang bukan masalah. Tapi kalau kebiasaan ini memicu utang konsumtif, bahkan maksa pakai kartu kredit atau PayLater, sudah saatnya Anda mengevaluasi pola belanja.

                                                FLIN siap bantu Anda susun strategi pelunasan utang sesuai kondisi keuangan.

                                                Anda bisa konsultasi buat dapetin solusi yang lebih terarah mengelola cicilan, jadi tidak lagi kebeban utang konsumtif akibat kebiasaan belanja yang susah dikontrol.

                                                Konsultasikan kondisi Anda sekarang dan temukan solusi yang paling cocok bareng tim FLIN.

                                                Cek tips lainnya agar belanja tidak berlebihan dengan baca di bawah:

                                                Jangan lupa untuk share artikel ini di sosial mediamu!

                                                Anda Tidak Perlu Menanggung Ini Sendirian

                                                Konsultasikan kondisi keuangan Anda dan mulai rencana pelunasan yang jelas bersama FLIN

                                                Artikel terkait

                                                Retail Therapy, Belanja Buat Obat Stres, Kapan Wajar dan Kapan Sudah Bahaya?

                                                Cara Mengelola Keuangan

                                                Retail Therapy: Belanja Buat Obat Stres, Kapan Wajar dan Kapan Sudah Bahaya?

                                                Impulsive Buying, Kenapa Selalu Khilaf dan Cara Berhentinya

                                                Cara Mengelola Keuangan

                                                Impulsive Buying, Kenapa Selalu “Khilaf” dan Cara Berhentinya

                                                Kredit Bermasalah? Ini Panduan Untuk Mengatasinya

                                                Cara Mengelola Keuangan

                                                Kredit Bermasalah? Ini Panduan Untuk Mengatasinya!

                                                Cara Melunasi Shopee PayLater Panduan & Solusi Kalau Gagal (1)

                                                Kurang Cicilan s.d 70% dengan FLIN

                                                • Konsultasi Gratis
                                                • Tanpa Jaminan
                                                • Resmi Terdaftari KOMDIGI