Anda sudah melewati serangkaian tes, wawancara pun terasa berjalan mulus. Tinggal menunggu kabar baik, tetapi yang datang justru email penolakan.
Di momen seperti ini, banyak pencari kerja yang mencoba mencari tahu apa penyebabnya. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah BI Checking ikut memengaruhi hasil rekrutmen?”
Pertanyaan itu semakin sering dibahas karena beberapa perusahaan, khususnya di industri keuangan, memang melakukan pengecekan riwayat kredit sebagai bagian dari proses seleksi.
Jadi, benarkah BI Checking bisa membuat lamaran kerja ditolak?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Ada perusahaan yang memang mengecek riwayat kredit calon karyawan, tetapi ada juga yang sama sekali tidak menjadikannya syarat rekrutmen. Simak pembahasan selengkapnya di bawah.
Apakah Perusahaan Benar-Benar Cek BI Checking Saat Rekrutmen?
Ya, beberapa perusahaan memang melakukannya, tetapi tidak semuanya.
Saat ini istilah BI Checking sebenarnya sudah tidak digunakan lagi. Sejak fungsi pengawasan perbankan beralih ke OJK, pemeriksaan riwayat kredit dilakukan melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
SLIK berisi informasi mengenai riwayat fasilitas kredit seseorang, termasuk status pembayarannya. Data itu biasanya digunakan oleh bank dan lembaga keuangan untuk menilai risiko sebelum memberikan pinjaman.
Namun dalam proses rekrutmen, sebagian perusahaan, terutama yang bergerak di sektor keuangan, juga bisa menjadikan informasi tersebut sebagai salah satu bahan penilaian calon karyawan.
Berdasarkan informasi dari JobStreet, Glints, dan KitaLulus, praktik ini umumnya dilakukan pada posisi yang berkaitan dengan pengelolaan uang, aset perusahaan, atau pengambilan keputusan finansial.
Anda perlu pahami, SLIK bukan satu-satunya faktor yang menentukan diterima atau tidaknya seseorang.
Perusahaan tetap akan mempertimbangkan pengalaman kerja, kompetensi, hasil wawancara, hingga hasil psikotes. Riwayat kredit hanya menjadi salah satu pertimbangan tambahan pada posisi tertentu.
Dasar Hukum Perusahaan Mengecek SLIK Calon Karyawan
Jangan mengira perusahaan bebas mengecek BI Checking siapa saja. Faktanya, tidak demikian.
Data dalam SLIK merupakan informasi yang dilindungi. Untuk itu, perusahaan tidak bisa mengaksesnya sembarangan tanpa dasar yang sah.
Dalam praktik rekrutmen, pengecekan SLIK biasanya dilakukan setelah calon karyawan memberikan persetujuan sebagai bagian dari proses background check.
Artinya, perusahaan tidak bisa begitu saja meminta data kredit seseorang tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
Hingga saat ini, tidak ada aturan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mewajibkan setiap perusahaan mengecek SLIK calon karyawan.
Keputusan untuk menjadikan riwayat kredit sebagai bagian dari proses seleksi merupakan kebijakan internal perusahaan, biasanya dengan mempertimbangkan tingkat risiko dari posisi yang dilamar.
Perusahaan dan Industri yang Biasa Cek BI Checking
Tidak semua perusahaan memiliki kebutuhan untuk melihat riwayat kredit calon karyawan.
Semakin besar tanggung jawab seseorang terhadap uang, aset, atau keputusan keuangan perusahaan, semakin besar pula kemungkinan dilakukan background check, termasuk pengecekan SLIK.
Berikut beberapa perusahaan dan industri yang biasanya melakukan cek BI Checking:
Perbankan dan Lembaga Keuangan
Inilah industri yang paling sering melakukan pengecekan riwayat kredit. Alasannya cukup sederhana. Karyawan perbankan setiap hari berhubungan dengan dana nasabah, analisis kredit, maupun transaksi bernilai besar.
Perusahaan tentu ingin memastikan calon karyawan memiliki rekam jejak keuangan yang baik dan mampu mengelola kewajiban finansialnya.
Asuransi
Perusahaan asuransi juga bisa melakukan pengecekan pada posisi tertentu, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan perusahaan, investasi, atau analisis risiko. Tapi, tidak semua posisi di perusahaan asuransi akan melalui proses ini.
Fintech dan Startup Keuangan
Perusahaan fintech umumnya memiliki standar rekrutmen yang cukup ketat, terutama untuk divisi yang mengelola data keuangan, penyaluran pinjaman, atau analisis risiko kredit.
Pada beberapa perusahaan, pemeriksaan riwayat kredit juga menjadi bagian dari proses due diligence terhadap calon karyawan.
Perusahaan Pembiayaan (Leasing)
Perusahaan leasing juga termasuk sektor yang cukup sering melakukan background check. Sebab, aktivitas bisnisnya berkaitan langsung dengan pembiayaan, penilaian kredit, hingga pengelolaan piutang pelanggan.
BUMN Tertentu
Tidak semua BUMN mensyaratkan pengecekan SLIK. Tapi, beberapa BUMN yang bergerak di sektor jasa keuangan atau memiliki regulasi internal terkait manajemen risiko bisa menjadikan riwayat kredit sebagai salah satu bahan pertimbangan.
Karena itu, persyaratan rekrutmen bisa berbeda antara satu BUMN dengan BUMN lainnya.
Perusahaan Multinasional (untuk Posisi Keuangan)
Sebagian perusahaan multinasional menerapkan proses background check yang cukup menyeluruh.
Selain memverifikasi riwayat pekerjaan dan pendidikan, beberapa perusahaan juga bisa mengevaluasi kondisi finansial calon karyawan untuk posisi yang memiliki tanggung jawab besar terhadap keuangan perusahaan.
Posisi Kerja yang Paling Rawan Dicek BI Checking
Kalau Anda melamar sebagai desainer grafis, content writer, atau software engineer, kemungkinan pengecekan SLIK relatif kecil.
Sebaliknya, peluangnya akan lebih besar jika posisi yang dilamar berkaitan langsung dengan pengelolaan uang atau pengambilan keputusan finansial.
Berikut contoh posisi kerja yang paling rawan dicek BI Checking-nya:
Finance, Accounting, dan Treasury
Posisi ini bertanggung jawab mengelola arus kas, pembayaran, hingga laporan keuangan perusahaan.
Karena pekerjaannya berkaitan langsung dengan dana perusahaan, riwayat kredit calon karyawan bisa menjadi salah satu indikator yang diperhatikan.
Audit dan Compliance
Tim audit dan compliance bertugas memastikan perusahaan menjalankan proses bisnis sesuai aturan yang berlaku.
Integritas menjadi salah satu aspek penting dalam posisi ini. Oleh karena itu, beberapa perusahaan melakukan background check yang lebih menyeluruh, termasuk melihat riwayat kredit bila diperlukan.
Teller dan Customer Service Bank
Teller maupun customer service bank memang tidak selalu mengambil keputusan pemberian kredit. Tapi, mereka tetap berinteraksi langsung dengan transaksi dan dana nasabah setiap hari.
Untuk itu, bank sering menerapkan proses seleksi yang lebih ketat dibanding banyak industri lainnya.
Manajemen dan Direksi
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap perusahaan.
Untuk posisi manajerial atau direksi, background check biasanya dilakukan lebih komprehensif, termasuk meninjau rekam jejak profesional maupun aspek finansial jika dianggap relevan.
Procurement dan Purchasing
Tim procurement mengelola pembelian barang dan jasa dengan nilai yang tidak sedikit.
Karena berkaitan dengan anggaran perusahaan serta proses pengadaan, beberapa perusahaan juga memasukkan posisi ini dalam kategori yang memerlukan pemeriksaan latar belakang lebih mendalam.
Status SLIK Seperti Apa yang Membuat Lamaran Ditolak?
Misalnya, “Kalau status SLIK saya Kol 2 atau Kol 3, apakah pasti gagal diterima kerja?” Jawabannya, tidak ada aturan yang berlaku untuk semua perusahaan.
Setiap perusahaan memiliki kebijakan rekrutmen yang berbeda. Namun, berdasarkan praktik yang umum diterapkan di industri keuangan, semakin buruk kualitas kredit seseorang, semakin besar pula risikonya menjadi pertimbangan dalam proses seleksi.
Berikut gambaran sederhananya.
Kol 3, 4, dan 5: Berisiko Tinggi di Industri Keuangan
Kalau riwayat kredit Anda berada di Kol 3 (Kurang Lancar), Kol 4 (Diragukan), atau Kol 5 (Macet), peluang lolos seleksi di sektor perbankan dan lembaga keuangan memang bisa lebih kecil.
Alasannya bukan karena perusahaan ingin menghukum calon karyawan yang pernah mengalami masalah keuangan.
Dari sudut pandang perusahaan, posisi yang mengelola uang atau mengambil keputusan finansial membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Riwayat kredit yang menunjukkan tunggakan berkepanjangan bisa menjadi salah satu indikator yang perlu mereka pertimbangkan bersama faktor lainnya.
Meski begitu, status Kol 3, 4, atau 5 tidak otomatis membuat semua lamaran kerja ditolak. Di luar industri keuangan, banyak perusahaan yang sama sekali tidak menjadikan SLIK sebagai bagian dari proses rekrutmen.
Kol 2: Tergantung Kebijakan Perusahaan
Status Kol 2 menunjukkan pernah terjadi keterlambatan pembayaran, tetapi belum masuk kategori kredit bermasalah. Dalam praktiknya, banyak perusahaan masih melihat konteks di balik keterlambatan tersebut.
Misalnya, keterlambatan hanya terjadi satu atau dua kali beberapa tahun lalu dan setelah itu pembayaran selalu lancar.
Kondisi seperti ini tentu berbeda dengan keterlambatan yang terus berulang hingga mendekati status kredit macet.
Untuk itu, Kol 2 belum tentu menjadi penghalang untuk mendapatkan pekerjaan. Semuanya kembali pada kebijakan perusahaan dan hasil penilaian secara keseluruhan.
Kol 1 dengan Banyak Fasilitas Kredit: Bisa Jadi Pertimbangan
Ini juga sering disalahpahami. Banyak orang mengira kalau statusnya masih Kol 1, pasti tidak ada masalah.
Padahal, beberapa perusahaan juga bisa melihat profil utang secara keseluruhan, bukan hanya kolektibilitasnya.
Misalnya, dua kandidat sama-sama memiliki status Kol 1.
Kandidat A punya satu KPR dan selalu membayar tepat waktu. Sedangkan, kandidat B punya beberapa kartu kredit, KTA, paylater, dan pinjaman lain dengan total kewajiban bulanan yang cukup besar, meski semuanya masih lancar.
Keduanya sama-sama memiliki kualitas kredit yang baik.
Namun, pada posisi tertentu yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan atau risiko, perusahaan bisa saja mempertimbangkan beban utang tersebut sebagai bagian dari proses penilaian.
Bukan berarti kandidat B pasti ditolak.
Hanya saja, jumlah fasilitas kredit juga bisa menjadi salah satu informasi yang dilihat, terutama pada industri yang menerapkan background check secara menyeluruh.
Riwayat Restrukturisasi: Apakah Berpengaruh?
Restrukturisasi kredit juga sering menimbulkan pertanyaan. Apakah riwayat restrukturisasi otomatis membuat perusahaan menolak lamaran kerja? Jawabannya tidak otomatis.
Riwayat restrukturisasi memang bisa tercermin dalam informasi kredit yang dilaporkan ke SLIK. Namun, perusahaan biasanya tidak hanya melihat fakta bahwa restrukturisasi pernah dilakukan.
Mereka juga akan mempertimbangkan bagaimana kondisi kredit setelah restrukturisasi tersebut.
Misalnya, kalau setelah restrukturisasi Anda kembali disiplin membayar cicilan hingga akhirnya lunas, hal itu tentu memberikan gambaran yang berbeda dibanding kredit yang terus menunggak hingga macet.
Jadi, restrukturisasi bukan akhir dari segalanya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Anda menyelesaikan kewajiban setelahnya.
Apakah Pinjol dan PayLater Ikut Dicek?
Ya, bisa ikut terlihat, tetapi tergantung apakah penyedia layanan tersebut melaporkan data kredit ke SLIK OJK atau tidak.
Saat ini, banyak pinjaman online legal maupun layanan paylater yang sudah menjadi bagian dari pelaporan SLIK sesuai ketentuan OJK.
Artinya, kalau Anda memiliki tunggakan pada layanan tersebut, informasinya bisa muncul dalam riwayat kredit.
Sebaliknya, kalau pembayaran selalu lancar, riwayat itu juga akan tercatat dengan baik.
Yang perlu Anda pahami, perusahaan umumnya tidak mempermasalahkan Anda pernah menggunakan pinjol legal atau paylater. Yang lebih menjadi perhatian adalah bagaimana riwayat pembayarannya.
Misalnya, seseorang pernah menggunakan paylater untuk membeli laptop kerja dan seluruh tagihan selalu dibayar tepat waktu.
Kondisi ini tentu berbeda dengan seseorang yang memiliki beberapa pinjaman online dan menunggak selama berbulan-bulan.
Jadi, yang dinilai bukan sekadar pernah atau tidak pernah menggunakan produk kredit, melainkan bagaimana Anda mengelolanya.
Bolehkah Perusahaan Menolak Kandidat Karena BI Checking?
Di satu sisi, perusahaan ingin mengurangi risiko dengan melakukan background check. Di sisi lain, pelamar kerja khawatir riwayat kredit membuat kesempatan mereka hilang.
Lalu, bagaimana sebenarnya? Berikut penjelasannya.
Aspek Hukum Ketenagakerjaan
Hingga saat ini, tidak ada ketentuan dalam peraturan ketenagakerjaan yang mewajibkan perusahaan menggunakan SLIK sebagai syarat penerimaan karyawan.
Artinya, perusahaan pada dasarnya memiliki kebijakan masing-masing dalam menentukan proses seleksi, selama tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.
Jadi, ada perusahaan yang sama sekali tidak mengecek riwayat kredit, ada pula yang menjadikannya bagian dari background check untuk posisi tertentu.
Aspek Etika dan Diskriminasi
Dari sisi etika, penggunaan riwayat kredit dalam proses rekrutmen juga perlu dilakukan secara proporsional.
Misalnya, mengecek SLIK untuk posisi analis kredit tentu lebih mudah dipahami dibanding menjadikannya syarat untuk pekerjaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengelolaan keuangan.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan bahwa seseorang bisa mengalami kesulitan finansial karena berbagai alasan, seperti PHK, kondisi kesehatan, atau keadaan darurat lainnya.
Maka dari itu, riwayat kredit sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menilai kualitas seorang kandidat.
Kenyataan di Lapangan
Dalam praktiknya, pengecekan SLIK memang semakin umum dilakukan, terutama oleh perusahaan di sektor keuangan. Tetapi ini bukan berarti semua perusahaan melakukannya.
Bahkan untuk perusahaan yang melakukan pengecekan sekalipun, hasil SLIK biasanya hanya menjadi salah satu bagian dari proses evaluasi.
Pengalaman kerja, kemampuan teknis, hasil wawancara, referensi, hingga integritas kandidat tetap menjadi faktor penting dalam keputusan akhir.
Demikian fakta mengenai pertanyaan apakah BI checking bisa bikin gagal dapat kerja atau tidak. Jadi, riwayat kredit memang bisa memengaruhi proses melamar kerja, tetapi tidak berlaku untuk semua perusahaan maupun semua posisi.
Pada akhirnya, kalau riwayat kredit Anda masih kurang baik, jangan langsung berasumsi kesempatan mendapatkan pekerjaan sudah tertutup. Banyak perusahaan yang tidak menjadikan SLIK sebagai syarat rekrutmen.
Yang terpenting, mulailah perbaiki kondisi kredit sejak sekarang. Bayar cicilan tepat waktu, selesaikan tunggakan jika ada, dan hindari menambah utang yang justru memperburuk kondisi keuangan.
Kalau Anda kesulitan melunasi cicilan hingga khawatir berdampak pada riwayat kredit dan peluang karier, FLIN siap membantu mengevaluasi kondisi keuangan Anda serta mendiskusikan solusi penyelesaian utang sesuai kemampuan Anda.
Yuk, segera konsultasi sekarang GRATIS dengan klik tombol di bawah!
Cek artikel lainnya seputar pengaruh BI Checking ke kehidupan Anda lewat artikel bawah ini:
- Berapa Lama BI Checking Bersih? Lengkap dengan Cara Membersihkannya
- BI Checking Jelek: Contoh, Penyebab, dan Gimana Peluang Pinjaman Kamu?