FLIN bukan pemberi pinjaman dan tidak menyediakan pinjaman baru. | FLIN hadir untuk membantu penyelesaian pinjaman yang sudah ada dengan institusi keuangan atau pemberi pinjaman.

Liabilities

Kalau bicara soal keuangan atau akuntansi, kita sering dengar istilah liabilities. Singkatnya, ini adalah semua kewajiban finansial atau utang yang harus kita selesaikan, baik sebagai individu maupun perusahaan. Memahami liabilities itu krusial banget supaya kita bisa menilai seberapa sehat kondisi keuangan kita dan nggak salah ambil langkah.

Jadi, apa sih sebenarnya liabilities itu? Gampangnya, ini adalah utang yang muncul karena transaksi di masa lalu dan harus kita bayar di masa depan—bisa berupa uang, barang, atau jasa. Pokoknya, semua tagihan yang masih nangkring dan harus dilunasi, itulah liabilities.

Biasanya, utang-utang ini dibagi jadi tiga kategori utama:

  1. Liabilitas Jangka Pendek (Current Liabilities)
    Ini adalah kewajiban yang harus beres dalam waktu kurang dari setahun. Contohnya yang sering kita temui sehari-hari itu tagihan kartu kredit, cicilan paylater, pinjol, atau tagihan rutin bulanan yang belum sempat dibayar.
  2. Liabilitas Jangka Panjang (Non-Current Liabilities)
    Nah, kalau ini jatuh temponya lebih lama, biasanya di atas satu tahun. Contoh paling umum ya KPR rumah, kredit mobil, atau pinjaman bank dengan tenor panjang.
  3. Liabilitas Kontinjensi
    Ini agak unik karena sifatnya masih potensi. Kewajiban ini baru muncul kalau ada kejadian tertentu, misalnya kalau kita lagi kena gugatan hukum atau harus menanggung garansi produk.

Dalam kehidupan nyata, liabilities itu bentuknya macam-macam, mulai dari sisa cicilan kendaraan, tagihan kartu kredit yang masih outstanding, sampai utang personal ke orang lain. Selama belum lunas, statusnya tetap beban.

Sering ada yang bingung bedanya dengan aset. Begini logikanya: Aset adalah apa yang kita punya (tabungan, rumah, investasi), sedangkan liabilities adalah apa yang kita “utang” dan mengurangi nilai kekayaan tadi. Keuangan dibilang sehat kalau aset kita jauh lebih besar dari utang, sehingga net worth atau kekayaan bersih kita tetap positif.

Kenapa kita harus cerewet soal pengelolaan utang? Karena kalau nggak dikontrol, liabilities bisa bikin arus kas bulanan sesak. Rasio cicilan jadi bengkak, skor kredit turun, dan ujung-ujungnya rencana masa depan jadi berantakan. Jujur saja, banyak orang merasa kesulitan keuangan bukan karena gajinya kecil, tapi karena utangnya yang terlalu banyak.

Supaya tetap aman, ada beberapa tips sederhana yang bisa dicoba:

  • Coba catat semua utang yang ada, lengkap dengan bunga dan durasinya.
  • Prioritaskan buat lunasin utang yang bunganya paling mencekik duluan.
  • Rem keinginan buat nambah utang baru, apalagi kalau cuma buat konsumsi.
  • Jaga cicilan total tetap di bawah 30-35% dari penghasilan. Kalau sudah di atas itu, biasanya napas mulai sesak.
  • Dan kalau memang sudah terasa menumpuk banget, jangan ragu buat coba negosiasi restrukturisasi ke pihak bank.

Intinya, utang itu nggak selalu buruk selama kita tahu cara mengelolanya dengan bijak.