Bicara soal kredit atau pinjaman, pasti kita bakal sering dengar istilah “bunga floating”. Biasanya, bunga floating ini baru muncul setelah masa bunga tetap (fixed rate) habis, terutama di pinjaman jangka panjang seperti KPR.
Apa itu bunga floating?
Gampangnya, ini adalah jenis bunga yang nilainya nggak tetap, alias berubah-ubah terus mengikuti kondisi pasar atau suku bunga acuan dari bank sentral. Jadi, jangan kaget kalau tiba-tiba angka cicilan bulanan bisa berubah di tengah jalan.
Bagaimana cara kerja bunga floating
Sebenarnya simpel. Bank menentukan bunga berdasarkan suku bunga acuan ditambah margin keuntungan mereka. Karena suku bunga pasar itu dinamis, dampaknya langsung ke cicilan kita:
- Kalau suku bunga pasar lagi naik, ya bunga pinjaman ikut naik.
- Sebaliknya, kalau pasar lagi turun, cicilan kita bisa jadi sedikit lebih ringan.
Tapi tenang, penyesuaian ini nggak dilakukan setiap hari kok. Biasanya bank akan me-review berkala, misalnya tiap 3, 6, atau 12 bulan sekali.
Apa plus dan minus dari bunga floating?
Jujur saja, bunga floating ini ada sisi menariknya tapi ada juga risikonya. Sisi positifnya, kalau kondisi ekonomi lagi bagus dan suku bunga turun, kita bisa bayar lebih murah dibanding pakai bunga fixed. Awalnya pun biasanya ditawarkan lebih rendah.
Tapi ya itu, tantangannya ada di ketidakpastian. Cicilan jadi sulit diprediksi buat perencanaan keuangan jangka panjang. Kalau tiba-tiba suku bunga melonjak, arus kas bulanan kita bisa lumayan tertekan. Makanya, skema ini mungkin kurang cocok kalau kamu tipe yang lebih tenang dengan angka cicilan yang pasti-pasti saja setiap bulannya.